--- Selamat Datang di SSN SMP Negeri 1 Mentaya Hilir Selatan ------- Selamat Datang di SSN SMP Negeri 1 Mentaya Hilir Selatan---
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Wednesday, December 11, 2013

Ibuku Membagi sajadahnya




Ibu
Kau tak pernah menghitung,berapa yang  hilang darimu
Darah-mu  yang mangalir menjadi saksi
Pertarungan nyawa saat aku dilahirkan

Kau  tak pernah menghitung,berapa yang kau berikan
Hingga bentangan usiaku
Ketulusanmu
Tiada banding dalam hidup ini.

Ibu
Perjalanan usia,tidak membuat-mu legah tuk menemaniku
Kau takpernah lelah meraba suhu tubuhku ketika sakit
Kau terjaga dari mimpi indahmu,ketika tangisku memecah kesunyian malam
Kau membagi sajadahmu, saat aku dalam kemiskinan
Kau menahan laparmu,ketika aku lupa akan kebenaran
Kau memberikan kebahagian-mu, saat aku dalam kesusahan


Ibu
Senyum-mu menyembuhkan luka hati
Belaianmu menenangkan kegelisahanku
Bisikanmu memberikan aku kekuatan
Doamu memenangkan perang dalam diriku

Ibu
Walau kurangkai semua kembang didunia ini
Takan mampu menyaingi harum jasamu
Segala yang terbaik telah kau titipkan
untuk jadikan jalan menuju sorgaNya

Ibu
Hari ini……
Tunjukan padaku,cara terbaik tuk menghormatimmu

Meski engkau tak mengharap peghormatan
Read More

Tuesday, December 10, 2013

Cerita Bocah Pada Mentari



karya Norhayati Gemar,S.Pd

Seorang bocah
Lunglai
Raut penuh duka
Berpacu dengan waktu
Tuk bisikan pada mentari
Tentang istana kecilnya
Hancur
Terinjak bangunan walet

Ah………
Desah yang samar
Terlepas
Dari rongga dadanya
Lunglai
 (Bersama sepotong singkong menemani sarapanya)
Tersusun kata
Mentari………
Akankah kau seperti bangunan itu
Hancurkan istanaku
Yang kubangun dengan mencuri tidur siangku
Yang ku poles dengan keringat dingin karena amarah mama
Yang kupagar dengan rupiah demi rupiah uang jajanku

Mentari,
Rumah walet itu,angkuh dan sombong
Istanaku telah dihancurkanya
Digilas…….
Di bakar…….
Tiada lagi tempatku bermain

Mentari……...
Rumah walet itu,musnahkan harapanku
Senda gurau saatku bermain
Hilang,ditelan ambisi

Mentari…..
Kemana kubawa puing istana kecilku
Rumah walet terlalu tinggi,
Istana kecilku tak sanggup menandinginya

Mentari…..
Dimana teman mainku
Suaraku tak terdengar memanggil mereka
Karena suara walet,yang tak mengenal kerinduanku


Read More

Kepergianmu



Tangan lembutmu lunglai
Ketika harap tak lagi mampu untuk berbuat
Desah nafas satu demi satu
isyaratkan sebuah makna

Dalam diammu.....
Mata tak lagi terbuka
Mulut tak lagi terucap
Telingamu tak lagi mendengar

Kulit keriputmu gambarkan sebuah makna
Akhir dari pengabdianmu
Penyambung tangan dari Tuhanku
Tuk jadikan aku seorang ibu
Melahirkan bidadari-bidadariku

Oh.....Ibu betapa besar jasa
Yang telah kau berikan
Betapa banyak sudah waktu yang kau luangkan
Betapa banyak tenaga yang kau korbankan
Demi lahirnya dua putri kecilku

Ibu...jemariku tak mampu menghitungnya
Pikiranku tak bisa mengingatnya...banyak dan terlalu banyak
Hingga aku hanya mampu berdoa
Semoga tangan lembutmu,kelelahanmu,dahaga dan keringatmu
Menanti disana untuk menyambutmu
Menuju surgamu.....


karya : muslifah
Read More

Friday, December 6, 2013

Kepiluan



Kepiluan
Oleh Fajerul Khatimah, S.Pd


Kulirik engkau dalam bingkai kaca mewah
Kulempar senyuman padamu yang di sana
Namun kau tusuk hatiku
Dengan tatap datarmu

Kupeluh hatiku
Bujuk ia agar tak merintih
Namun ia terlanjur merasakan pedih

Kupijak kaki di permadani hijaumu
Kucoba ‘tuk ukir tawa
Ku sapa engkau dengan ceria
Namun kau remukanku dengan sikap acuhmu

Aku tak minta apa-apa
Cukup kau balas sapaku
Kau sambut aku dengan kehangatanmu yang dulu
Karena aku masih anakmu
Meski kau sudah asingkan aku
Demi keluarga barumu…


-----------------

NB: Salah satu Tugas puisi IHTku  :) *peace*
Read More

Monday, December 2, 2013

Puisiku dalam dentang nol dua nol nol


Aku tak pernah menjauhimu
Tak pernah terlintas
Aku tetap disisimu
Karena aku masih ada
meski sebait puisipun tak pernah ku buat untuk mu

Setiap saat,detak datak jantungku
Berlayar diantara ujung jam kehidupanmu
Aku selalu mengelilngimu dengan angka angka
yang berhingga,hingga dentang dua belas

Disetiap nol nol hidupku
Napasku ber irama,hatiku bicara
besok kan kucoba meluangkan waktu lagi
Menulis tentang kita,tentang cinta kita
Dalam bentuk puisi

Ternyata aku tak bisa
Bukan aku tak sempat,menatap tulus  harapmu
Ragaku lebih dulu menari dalam kelelahan
hingga kepenatan membunuh langkahku
Tuk ciptakan puisi indah,berjalan dalam satu,dua dan tiga cinta kita

Kucoba sekali lagi
Hingga di dentang nol dua nol nol
kerinduanku pada puisi kita
merambat dalam pergeseran waktu
memuncak,hingga tercipta
sebait  puisi
"Aku Mencintaimu"

Hanya sebait
Dan memang hanya sebait,
Tapi aku tetap selalu ada
Ada dalam dentang hidupmu
Read More

Siput siput kecil di ujung pandaran



Siput siput kecil
Manapak pasir pasir nakal
Terbawa gelombang
Terhempas dalam rumah nan mungil

Siput siput kecil
Kau telusuri ujung pandaran
Ombak tak pernah diam
Deru angin membelah pantai
Hempasan hujan menggoda malam
Tiada keluh untuk alam
Tiada hirau menanti pajar

Siput siput kecil
Saat mentari menyisi ditepi bumi
Tubuhmu lembut
Matamu tajam
 Menyeruak antara batu batu karang
Berlomba dengan waktu
Menghitung langkah
Membentang kekuatan
Diatas batas ujung pandaran

Siput siput kecil
Ketika jiwamu berayun dengan samudra
Tiada resah menapak ragu
Ujung pandaran tempatmu bertaut
Hingga rumahmu rapuh
Termakan jaman
Read More

Monday, November 25, 2013

PUISI Karya Ust. Fatah Al Hakim, S.E.I


SINABUNG



Sinabung…
Apa yang terjadi denganmu ?
Apa yang salah denganmu ?
Sehingga engkau murka kepada kami
Jiwamu bergolak seakan engkau akan menghukum kami

Gerakmu mengguncang kami
Suaramu menggetarkan dada kami
Nafasmu membunuh kami
Lavamu membakar kami

Sinabung…
Apa yang terjadi denganmu ?
Kami rindu keramahanmu
Kami rindu eloknya wajahmu
Kami rindu lembutnya suaramu
Kami ingin kemesraan kembali seperti dulu





BENUA DAN SAMUDRA

Benua . . . .
Daratan yang sangat luas
Sifatnya kering
Karna tidak adanya pengaruh dari angin laut
Angin laut yang lembab dan kering

            Di dunia ada enam benua
            Terbesar adalah Asia
            Kedua adalah Afrika
            Kemudian Amerika, Eropa, Australia
            Dan yang terakhir adalah Antartika

Samudra . . . .
Kumpulan air asin yang sangat luas
Dibatasi oleh benua
Luasnya meliputi 70% dari luas bumi

            Ada lima Samudra
            Samudra Hindia,
            Samudra Pasifik,
            Samudra Atlantik,
            Samudra Arktik,
            Dan terakhir Samudra Antartika

            
Read More

PUISI-PUISI Karya Nursafiyah, S.Pd


Dilema


Tahukahkamu….?
Saat kutatap indah bola matamu
Membuatku selalu berfikir
Ingin ku jadikan engkau bola dunia
Yang bisa kuikuti kemanapun

Ku ikuti kemana engkau bergerak
Yang selalu mengelilingi pikiranku
Aku hanya ingin menemukanmu
Seperti itu rasa yakinku padamu
Hanya untuk mengetahui kabar tentangmu

Aku yakin pasti menemukanmu…..
Volume kasihku takkan habis untukmu
Aku hanya ingin memilikimu
Menjadikan dunia kita utuh seperti bola dunia

Setelah kupikir dengan logika
Ternyata ada jarak yang memisah kita
Aku di sini dan kau di sana
Ini membuatku dilema





cintaku UNTUKMU
  

Saat kutatap indah matamu
Aku selalu teringat akan tatapanmu                                                                                                                      Yang selalu penuh dengan logika
Panjang rambutmu terurai dan saling berpotongan diagonal
Senyummu yang meluluhkan hatiku
Membuatku selalu berpikir, kaulah untukku

Dari jauh hanya bisa kutatap dirimu
Kuikuti diagonal pergerakanmu
Kutapaki jejak kakimu
Hanya untuk mengetahui kabar tentangmu

Aku yakin cintaku tak terhingga kepadamu
Volume kasihku takkan habis untukmu
Aku hanya ingin memilikimu
Ingin menjadikan dunia kita menjadi satu grafik lurus

Segala pembuktian akan ku tempuh
Untuk mendapatkan derajat cintamu
Menanamkan cintaku pada diameter hatimu
Sebagai bukti kecintaanku
Hanya untukmu, dan mendapatkanmu

By Nursafiyah, S.Pd

Read More

Sunday, November 24, 2013

Kepada Ninik sahabat ku

”

Bertahun sudah  kita tempuh arus waktu
Aritmatika menyatukan kita
Dalam eligi keangkuhanku
Ku cari akar akar persamaan  kuadrat kita
Jauh ke dalam hatimu, sedalam x1 dan x2

Bertahun sudah  kita tempuh arus waktu
Banyak yang kupinta darimu, tak berhingga  tanpa batas
Sejuta tanya, mengelilingi  kotak-kotak kehidupanmu
Hingga kita temukan median jalan tengah
Di antara modus modus yang sering tampil

Bertahun sudah  kita tempuh arus waktu
Ku berlayar di hatimu, dengan  ketinggian kerucut yang memuncak
Sebagian luas  lingkaran kehidupanmu
Telah ku potong dengan  juring-juring yang tajam
menusuk ketulusan hatimu
Hingga  kau membagi dengan  sasama
Untuk temukan kesederhanaan di antara kita

Bartahun sudah  kita tempuh arus waktu
Ada gelisah dalam hatiku, ketika kita tidak sejalan
Terpotong oleh garis tidak sejajar
Walau dalam nilai yang sama
Tapi kita berada di sudut yang bertolak belakang

Bertahun   sudah kita tempuh arus waktu
Peridaksamaan membuat kita berpindah ruas
Saat grafik  positif  kuadratmu berada di atas sumbu” x”
Dan “y” negatif membuatku berada di bawah sumbu “x” 

Bertahun sudah kita tempuh arus waktu
Hamparan bidang datar luas tanpa batas
Dalam bilangan khayal  tak berbentuk, dalam kekosongan tanpa anggota
Kau  tatap ke atas  tegak lurus, mengisi  ruang tiga deminsi
Dalam panjang, lebar dan tinggi
Hingga sampai pada titik maksimum

Bertahun  sudah kita tempuh arus waktu
Saat hari hampir turun
Ada gelisah  di hatiku
Ketika  diagonal ruang ku  tak mampu ku satukan dengan diagonal bidang mu
Melilit kumparan hari hari sepi, dalam sudut lingkaran yang tak terbatas

Bertahun  sudah  kita tempuh arus waktu
Dengan  bekal yang tersisa
Inggin  ku lukis arsir arsir  kesamaan kita
Di antara  notasi  komplemen 
Dalam kurva semesta
Read More